Sabtu, 10 November 2018
Mengenang dan Meneladani Pahlawan
Oleh: Sri Lestari Linawati
Sewaktu SD, SMP dan SMA, sekolah saya selalu mengadakan upacara memperingati Hari Pahlawan. Instruktur Upacara akan menyampaikan refleksi perjuangan pahlawan bangsa. Terakhir, menyanyikan lagu mengheningkan cipta. Upacara itu dilakukan dengan khidmat. Harapannya, agar kami semua para siswanya mampu meneladani semangat juang para pahlawan bangsa.
Di perguruan tinggi, kepahlawanan itu dikaji secara intensif melalui mata kuliah dan berbagai kegiatan kampus. Kegiatan itu sangat beragam, mulai dari kegiatan jurusan, fakultas, universitas, Jamaah Shalahuddin, hingga RDK (Ramadhan Di Kampus) yang kala itu diadakan di Gelanggang. Harapannya, nilai-nilai semangat juang para pahlawan mampu menginternal dalam diri pribadi mahasiswa.
Di Hari Pahlawan ini, ada dua sosok pahlawan yang menarik untuk dikenang, yaitu Jenderal Besar Soedirman dan Ibu Baroroh Baried. Jenderal Besar Soedirman disebut namanya oleh guide kami, Pak Anwar, saat kunjungan ke Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. Kebetulan saat itu saya harus mendampingi mahasiswa Prodi TLM (Teknologi Laboratorium Medis) kunjungan ke kampung Kauman. Adapun Ibu Baroroh Baried adalah tokoh Aisyiyah yang namanya kini diabadikan Aula Hall 4 Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta.
Jenderal Soedirman adalah salah seorang Pahlawan Revolusi Nasional Indonesia. Dalam sejarah perjuangan Republik Indonesia, ia merupakan Panglima dan Jenderal RI yang pertama dan termuda, 31 tahun. Soedirman juga dikenal sebagai pejuang yang gigih. Meski menderita penyakit paru-paru parah, ia tetap berjuang dan bergerilya bersama prajuritnya melawan tentara Belanda pada Agresi Militer II.
Soedirman lahir di Purbalingga, Jawa Tengah, 24 Januari 1916. Ia berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya seorang pekerja di pabrik gula Kalibagor Banyumas dan ibunya keturunan Wedana Rembang. Soedirman memperoleh pendidikan formal dari Sekolah Taman Siswa, kemudian melanjutkan ke HIK (sekolah guru) Muhammadiyah Solo. Selama menempuh pendidikan di sana, ia turut serta dalam kegiatan kepanduan Hizbul Wathan. Setelah itu ia menjadi guru di HIS Muhammadiyah, mengabdikan dirinya di HIS Muhammadiyah Cilacap, dan pemandu organisasi Hizbul Wathan.
Pak Anwar dengan semangat dan penuh keyakinan menceritakan bagaimana Jenderal Soedirman menunaikan shalat berjamaah di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, dilanjutkan mengatur strategi perjuangan. Terasa berbeda penjelasannya dengan pelajaran yang disampaikan oleh guru sejarah sewaktu SMP dan SMA dulu. Yang menyampaikan saat ini adalah seorang modin, marbout dan sekaligus murid ngaji Langgar KHA Dahlan. Mungkin juga karena saat wawancara tersebut, kami sedang berada di depan masjid Gedhe Kauman. Seakan jiwa kami diajak mengembara ke jaman perjuangan Jenderal Soedirman.
Sosok kedua yang harus dikenang dan diteladani warga Muhammadiyah, khususnya sivitas akademika Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, adalah Siti Baroroh Baried. Ia yang lahir di Yogyakarta pada 23 Mei 1923, menggemparkan dunia pendidikan nasional dengan diangkatnya menjadi Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada 27 Oktober 1964.
Sejak muda Baroroh memiliki semboyan ”Hidup saya harus menuntut ilmu”. Semboyan ini diucapkan di hadapan kedua orang tuanya. Tidak mengherankan jika kemudian perjalanan dan kiprahnya dalam pendidikan mengundang decak kagum dan menjadi panutan. Di usia masih sangat muda, 39 tahun, sejarah mencatatnya sebagai guru besar perempuan pertama di Indonesia, sebagaimana ditulis Adaby Darban dalam artikel “Lintasan Sejarah Kauman Jogjakarta” (2015).
Baroroh memulai pendidikan di SD Muhammadiyah, MULO HIK Muhammadiyah, Fakultas Sastra UGM (Sarjana Muda), Fakultas Sastra UI di Jakarta (Sarjana, 1952). Tahun 1953-1955 Baroroh mendalami Bahasa Arab di Cairo, Mesir. Pada saat itu, sangat langka perempuan menempuh pendidikan di luar negeri. Sepulang dari Mesir, pada 1 Juli 1963, Baroroh mendirikan Jurusan Sastra Arab UGM. Beliau menganggap bahwa di UGM perlu didirikan sebuah jurusan yang khusus mempelajari Bahasa dan sastra Arab. Jurusan ini dilahirkan sebagai upaya untuk mengisi kekosongan studi kearaban yang sudah ada lebih ditekankan pada aspek keagamaan. Oleh karena itu, misi utama kelahiran jurusan ini adalah pemahaman masyarakat Indonesia terhadap budaya Arab (Bahasa dan sastranya) khususnya budaya Arab yang telah diresepsi oleh masyarakat Indonesia. Selama sepuluh tahun beliau menjabat Ketua Jurusan Sastra Arab (1963-1973).
Bu Baroroh tidak hanya aktif di dunia perkuliahan. Beliau juga aktif di berbagai organisasi seperti MUI Pusat dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Di ’Aisyiyah, Bu Baroroh pernah menjabat sebagai PCA Gondomanan sampai Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah. Jabatan yang pernah diembannya di ‘Aisyiyah adalah Ketua Biro Hubungan Luar Negeri, Ketua Biro Penelitian dan Pengembangan, dan Ketua Bagian Paramedis. Beliau menjadi satu-satunya ketua PP ‘Aisyiyah yang paling lama menjabat yakni selama 5 periode dari tahun 1965 sampai 1985. Atas jasanya, ‘Aisyiyah memiliki posisi tawar di luar negeri. Banyak peneliti, penulis disertasi dari universitas luar negeri mempelajari organisasi ‘Aisyiyah melalui jasanya.
Selama dua periode, 1965-1968 dan 1968-1971, ia menjabat sebagai Dekan Fakultas Sastra UGM. Ia juga turut mengelola penerbitan Majalah Suara 'Aisyiyah. Banyak karya Siti Baroroh terkait pembelajaran mengenai filologi, ilmu tentang bahasa, kebudayaan, pranata, dan sejarah; sebut saja Bahasa Arab dan Perkembangan Bahasa Indonesia (1970), Bahasa Indonesia sebagai Infrastruktur Pembangunan (1980), Panji: Citra Pahlawan Nusantara (1980), Pengantar Teori Filologi (1985), Memahami Hikayat dalam Sastra Indonesia (1985), Kedatangan Islam dan Penyebarannya di Indonesia (1989), dan masih banyak lainnya.
Tulisan ini disarikan dari berbagai sumber. Penulis beruntung sempat bertemu sosok Baroroh Baried. Dengan penampilan gaya khas perempuan Jawa, beliau ke kampus mengenakan kebaya. Ruang kerja beliau di pojok lantai 2 Fakultas Sastra UGM, memungkinkan saya sering melihat beliau. Membaca dan membaca di ruang kerjanya, usai beliau mengajar. Kelas kami dulu pernah beliau ajar mata kuliah Tarjamah. Disiplin. Tegas. Disiplin mengatur waktu, disiplin belajar, disiplin berorganisasi. Itulah profil karakter pribadi yang saya fahami.
Semoga bermanfaat dan memotivasi kita dalam menunaikan catur dharma perguruan tinggi. Berjuang dan menyandarkan diri pada Allah dan RasulNya adalah jalan utama yang musti kita tempuh.[] Wallahu a’lam.
Yogyakarta, 10 November 2018
Sabtu, 20 Oktober 2018
Ikhlas Wakaf Waktu, Kunci Sukses Pemuda Muhammadiyah

foto: (kiri) panjimas.com, (kanan) anangamiruddinnugroho.com
Berikut ini adalah salah satu di antara beberapa tulisan mahasiswa. Kado terindah minggu ini.
Ikhlas Wakaf Waktu, Kunci Sukses Pemuda Muhammadiyah
Oleh: Havida Widyastuti
Menjadi sebuah kebanggaan tersendiri untuk mewawancarai tokoh penggerak Muhammadiyah. Berawal dari penugasan materi Kemuhammadiyahan dan Keaisyiyahan, kami bisa bertemu dengan tokoh yang sangat menginspirasi, Anang Amirudin Nugroho.
Tiidak mudah untuk bertemu dengan beliau. Kami sempat kesulitan dalam menghubungi beliau. Sebenarnya beliau adalah orang ketiga yang kami hubungi untuk dijadikan seorang narasumber.
Kedua calon narasumber sebelumnya tidak dapat melakukan wawancara dikarenakan ada tugas sosial di Palu. Hal itu tak menghentikan kami untuk bertemu dengan tokoh penggerak Muhammadiyah lainnya, khususnya tokoh Pemuda Muhammadiyah yang menjadi concern kami.
Kami berencana untuk bertemu dengan beliau di salah satu acara besar Muhammadiyah yaitu Muhammadiyah Jogja Expo yang diselenggarakan di Sportorium UMY. Kehadiran kami di sana sangat membuat kami bahagia. Satu sisi kami bisa bertemu dengan beliau, sisi lain kami bisa berinteraksi dengan masyarakat dan kader Muhammadiyah dalam satu forum.
Pencarian kami terhenti pada stand PCM Wirobrajan. Sosok beliau yang masih muda dan energik, menjadikan kita semakin interest untuk melakukan wawancara. Karena memang suasananya yang ramai, kami pun mencari tempat yang agak tenang. Terpilihlah depan pintu masuk utama sportorium.
Anang Amiruddin Nugroho adalah sosok penggerak inspirasi kami. Mewawancarai seorang ketua Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PC PM) Wirobrajan Yogyakarta, membuat kami merasa bahagia sekaligus tegang. Tegang karena beliau menduduki posisi tertinggi di Cabang Wirobrajan.
Kegiatan beliau banyak. Sibuk kuliah S2, mengajar, aktif di PC PM, aktif di PDPM membuat beliau harus pintar memanage waktu. Agenda yang padat tiap minggunya tidak menjadikan beban pikiran bagi beliau.
Sempat dituturkan bahwa menjadi penggerak ortom itu memang tidak mudah. Diperlukan tenaga extra untuk melakukan itu. Semua itu dapat dilakukan dengan mudah apabila kita selalu berfikiran terbuka, tidak egois dan yang terpenting adalah ikhlas.
Ikhlas menjadi kata kunci dalam menjalankan suatu organisasi. Belajar ikhlas itu setiap hari, tetapi kita tidak tahu kapan kita bisa lulus mempelajari ikhlas. Sedikit tutur beliau yang mengajarkan kami betapa besarnya pengaruh keikhlasan dalam bertindak.
Akhir wawancara beliau sempat berpesan bahwa “Sebagai seorang aktivis yang telah mengikrarkan diri menjadi kader Muhammadiyah itu harus disyukuri, karena itu merupakan salah satu wakaf waktu kita untuk berada di jalan Allah”.
Menjadi sebuah pencerahan di hati mendengar pesan beliau untuk mahasiswa terutama aktivis pergerakan. Ternyata Pemuda Muhammadiyah memiliki kader-kader yang memang siap dalam menjalankan amanah guna mewujudkan tujuan Muhammadiyah.
Sosok Pak Anang yang menginspirasi membuat kami sadar bahwa menjadi seorang mahasiswa yang membanggakan dapat diraih dengan mengikuti organisasi. Di organisasi, kita ditempa menjadi individu yang mandiri, kreatif dan inovatif serta mampu melakukan interaksi sosial yang sangat kita butuhkan ilmunya untuk penerapan di bidang studi nantinya.
Yogyakarta, 19 Oktober 2018.
Havida Widyastuti adalah mahasiswa Prodi D4 Teknologi Laboratorium Medis 5B1 Unisa Yogyakarta. Aktif di PK IMM FIKes Unisa dan Outbound Propemka Unisa 2017.
Jumat, 19 Oktober 2018
Komunikasi Profesi
Oleh: Sri Lestari Linawati
Karena didesak oleh teman-teman untuk menanyakan sebab-sebab sakit saya, maka suatu sore saat control, usai pemeriksaan, saya beranikan diri untuk bertanya pada dokter. Teman-teman menyarankan itu agar mereka mengetahui langkah antisipasinya. Malu-malu saya bertanya. “Dok, apa sebenarnya penyebab sakit saya?” perlahan dan hati-hati saya bertanya pada dokter yang tampak ramah dan penuh keteduhan itu.
Sejenak beliau memandang saya. Tersenyum seraya berkata lembut, “Bu, Ibu tahu kan, orang gila tidak pernah mandi, tapi dia tidak pernah sakit seperti yang Ibu derita? Jadi berfikir sederhana saja.. Sakit, diobati, sudah. Yang penting kita ikhtiar.”
Saya pun tersenyum dan mengangguk, “Iya juga..” Saya jadi malu dengan pertanyaan yang telah saya ajukan dan bermaksud segera meninggalkan ruang poliklinik bedah. Bukankah saya mengaku bertuhan Allah? Bukankah saya pun tahu bahwa bila Allah berkehendak, maka Dia cukup berfirman “Kun” maka jadilah? Bukankah dokter telah melakukan upaya terbaik, mengapa saya masih harus membebani beliau dengan pertanyaan remeh temeh begini? Duh malu deh..
Ternyata Pak Dokter melanjutkan jawabannya dengan penuh bijak. Tidak menampakkan ketergesa-gesaan dalam melayani pasien-pasiennya. Saya yakin beliau juga tahu bahwa di luar masih banyak pasien yang antri, namun beliau dengan cerdas menyampaikan jawaban yang saya butuhkan. Keterangan medis. Ilmiah tentunya. Bukan mistis. Dengan sedikit beringsut dari tempat duduknya, beliau mengeluarkan notebooknya. Dengan sigap, singkat, padat, jelas dan gamblang beliau menjelaskan penyakit saya. Sebagai orang awam, dijelaskan begitu membuat saya adem. Saya belajar bahwa istilah medis ilmiah tidak harus bikin pening pendengarnya. Orang awam macam saya ternyata juga boleh mendapatkan penjelasan yang bisa saya fahami. Dalam konteks inilah, menurut saya, sang dokter ini adalah orang yang mulia.
Dalam konteks komunikasi, dokter berhasil melakukan komunikasi dengan pasiennya. Pasien diberikan haknya untuk mengetahui penyakit yang dideritanya. Penjelasan dokter yang gamblang, mengantarkan pasien memiliki pengetahuan yang utuh hal penyakitnya. Yang utuh itu antara lain tentang sakitnya apa, mengapa, bagaimana mengatasinya, bagaimana perawatan pasca operasi, hingga masa pemulihannya. Yang utama, sakit itu mengajarkan kepada saya akan kasih sayang dan kemurahan Allah.
Tentu bukan hanya kepada pasien, dokter juga perlu melakukan komunikasi dengan sesama dokter, komunikasi dengan perawat yang membantu ketugasannya, komunikasi dengan pimpinan Rumah Sakit, karyawan dan staf, hingga tukang kebun dan satpam.
Di rumah, sang dokter melakukan komunikasi dengan istri/ suami, anak-anaknya, keluarganya, tetangganya, masyarakat dan bangsanya. Adapun komunikasi keilmuannya, dokter berkomunikasi melalui presentasi ilmiah, penulisan artikel dan jurnal. Semua itu dipelajari secara bertahap, terus-menerus dan berkesinambungan.
Hal itu karena dokter juga manusia. Hablum minallah dan hablum minannas senantiasa menjadi acuannya. “Tidaklah Kuciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka beribadah kepadaKu” (Adz-Dzariyat 51: 56)
“Jawaban yang lemah lembut, dapat menyingkirkan kemarahan.” (George Rona)
“Teladan itu turun ke bawah, bukan naik ke atas.” (Joseph Joubert)
“Jiwa manusia dapat diketahui, baik dari suaranya, maupun dari sinar matanya.” (Alph de Lamartine)
“Kata-kata bijaksana seringkali tak didengar, namun kata-kata yang lembut akan selalu diingat orang.” (Arthur Helps)
“Tidaklah ia dikatakan intelek, sebelum tampak nyata bekas ilmunya di kalangan masyarakat.” (Al-Ghazali).
Yogyakarta, 18 Oktober 2018.
Minggu, 14 Oktober 2018
Mengenalkan Semangat Pembaharuan KHA Dahlan
Oleh: Sri Lestari Linawati
Tak kenal sebelumnya dengan Muhammadiyah, maka ortom pun tidak dikenalnya. Wajar. Ini generasi milenial, kabarnya.
Ketika kita mengharapkan pribadi ini mampu mengikuti jejak pembaharuan KHA Dahlan, maka wajib hukumnya bagi kita untuk menghadirkan ruh dan semangat pembaharuan yang telah beliau wariskan. Buku dibaca, harus.. Webnya ditelusuri, bagus.. Namun, yang namanya ruh dan semangat itu tidak cukup dengan hanya meresume bacaan dari buku dan web. Pribadi itu butuh bertemu dengan sosok-sosok pembaharu pengikut KHA Dahlan. Mereka tersebar di segenap ortom.
Ortom atau organisasi otonom Muhammadiyah ini memiliki sejarah panjang. Gerak dan dinamikanya sangat penting dan strategis bagi laju dakwah Muhammadiyah. Aisyiyah bergerak di lingkungan ibu-ibu. Nasyiatul Aisyiyah di lingkungan wanita muda Aisyiyah. IPM di kalangan pelajar. IMM di kalangan mahasiswa. PM di kalangan pemuda.
Adapun Tapak Suci di kalangan pesilat dan beladiri Muhammadiyah. Dari TS, saya belajar tentang pentingnya iman dan akhlak. Hizbul wathan bergerak di bidang kepanduan. Dari Hizbul Wathan, saya banyak belajar tentang hakikat organisasi dan semangat keikhlasan yang tiada henti.
Melalui kuliah praktikum Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, saya mengajak mahasiswa untuk wawancara "Ortom dan Tokoh Penggerak Muhammadiyah".
Adalah benar bila upaya itu tidak semudah membalik telapak tangan. Kami terus berupaya mewujudkannya, semampu kami.
Beberapa nama kami hubungi. Sebagian memberikan respon positif dan dukungan bagus. Sebagian lainnya masih nunggu klik janjiannya.
Walhasil, saya dapat kabar bahagia pagi ini. Mahasiswa, satu per satu mengabarkan progresnya. Ada mahasiswa Analis berhasil wawanacara dengan Mas David Effendi, M.A., dosen UMY, pegiat literasi RBK, ketua Serikat Taman Pustaka.
Mahasiswa Fisioterapi kelas 3C berhasil wawancara dengan Mbak Rohmatun Nazilah, Alumni IPM, sekarang Wakil Kepala SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta.
Mahasiswa Fisioterapi kelas 3B1 tidak ketinggalan pula. Mereka berhasil wawancara dengan Pak Afnan Hadikusumo, cucu Ki Bagus Hadikusumo, Anggota DPD DIY.
Ada haru dan bahagia menyelinap dalam dada. Bahagia melihat wajah ceria mereka. Penuh semangat. Semoga ruh dan semangat pembaharuan KHA Dahlan mengalir dalam darah mereka. Merekalah kelak yang akan menjadi pemimpin-pemimpin bangsa ini.
Yogyakarta, 13 Oktober 208
Senin, 04 Desember 2017
Panduan Efektivitas Kuliah Praktikum Bahasa Arab
Oleh : Sri Lestari Linawati
Orientasi perkuliahan bahasa Arab, sejak tahun akademik 2016/2017 lebih diarahkan pada percakapan perawat dengan pasien. Tujuan ini tentu lebih spesifik penggunaannya, sesuai dengan kebutuhan perawat.
Di era MEA, perawat dituntut menguasai bahasa internasional, agar leluasa memasuki dunia kerja nantinya, di manapun. Sejak tahun 2009, Prodi Perawat Unisa telah menetapkan pentingnya penguasaan bahasa Inggris dan bahasa Arab sebagai kurikulum pendukung, agar lulusan mampu bersaing secara global. Alasan kedua karena Unisa hendak mencetak muballigh/ muballighat di bidang kesehatan. Artinya, penguasaan bahasa Inggris dan Arab menjadi mutlak diperlukan bagi mahasiswa perawat.
Faktanya, mahasiswa masih kesulitan dalam mempelajari bahasa Arab. Akhirnya Tim Bahasa Arab merumuskan perlunya spesifikasi perkuliahan. Kuliah bahasa Arab di Perawat Unisa sudah saatnya menyiapkan muatan materi yang sesuai dengan kebutuhan perawat, bukan bahasa Arab sebagaimana umumnya di pesantren, lembaga kursus atau institusi lainnya. Ini hanya khusus terkait dunia keperawatan saja.
Ada banyak hal yang perlu dipelajari bagi penguasaan bahasa Arab perawat, yaitu (1) pengenalan dasar-dasar bahasa Arab, (2) pengenalan bahasa Arab medis dan (3) intensif percakapan Arab perawat. Pembagian ini disusun menyesuaikan 3 semester yang disediakan Prodi Perawat bagi penguasaan bahasa Arab.
PENAMAAN KULIAH
Nama mata kuliah untuk bahasa Arab adalah Bahasa Arab 1 (ditempuh pada semester 4), Bahasa Arab 2 (semester 5) dan Bahasa Arab 3 (semester 6). Besaran SKS masing-masing 2. Bahasa Arab 1 sejumlah 2 SKS teori, namun sejak TA 2016/2017 menjadi 1 SKS teori dan 1 SKS tutor.
Bahasa Arab 2 sejumlah 2 SKS, yaitu 1 SKS teori dan 1 SKS praktikum. Begitu juga Bahasa Arab 3, yaitu 1 SKS teori dan 1 SKS praktikum.
Kurikulum baru yang dimulai TA 2016/2017, penamaan mata kuliah ada perubahan menjadi Nahwu, Sharaf dan Muthala'ah. Hingga kini Tim Bahasa Arab belum sampai mengubah nama tersebut, namun substansi perkuliahan lebih menjadi prioritas untuk dilakukan terobosannya.
Kelas praktikum lebih banyak dimanfaatkan mahasiswa untuk belajar bercakap-cakap dalam bahasa Arab. Mulai salam pembukaan, jurnal pembelajaran hingga materi inti, semua dimanfaatkan bagi tercapainya kemampuan berbicara Arab.
Assalamu'alaikum.. Kaifa halukum ? Hayya nabda' hadihid dirasah bikalimah basmalah ma'an..
Sampai di bagian ini, alhamdulillah mahasiswa sedikit demikit mulai familiar. Yach.. kid jaman now.. Mereka mahasiswa cerdas.
Ats-tsaniy, hayya naqraul qur'an.. ayyu surah sanaqra' ? limadza naqraul qur'an ? lianna yajibu 'alaina an naqra'al qur'an fi awwalid dirasah. Unisa "Profesional Qur'ani", profesional yang terinspirasi Al-Qur'an.
Membaca Al-Qur'an di awal kuliah di Unisa sudah lama dilandingkan. Patut kita amalkan bersama. Tak hanya itu, sesi ini diharapkan dapat menunjang ketercapaian target kuliah bahasa Arab. Kok ?
Karena Al-Qur'an turun dengan bahasa Arab. Ada 4 hal penting yang nantinya juga berguna bagi percepatan penguasaan bahasa Arab, yaitu makharijul huruf, tasydid, panjang pendek bacaan dan tajwid. Empat hal tersebut adalah permasalahan yang umum dialami mahasiswa, karenanya diperlukan metode pengajaran yang efektif, menyenangkan dan mampu mencapai sasaran perkuliahan.
Kuliah inti, percakapan bahasa Arab. Di bagian ini diperlukan pengetahuan dan ketrampilan pengucapan kosakata bahasa Arab terkait medis dan keperawatan. Sebagai bahasa asing, wajar bila mahasiswa umumnya masih kesulitan mengucapkannya. Satu dua mahasiswa memang ada yang dari pondok pesantren, beberapa lainnya pernah mendapat pelajaran bahasa Arab waktu SD atau SMP atau SMA. Adapun sebagian besar lainnya baru mengenal bahasa Arab ya di Unisa ini. Adapun mahasiswa non muslim, kendalanya adalah di huruf Arab yang belum dikenal. Mungkinkah menguasai bahasa Arab tanpa mengenal huruf Arab ? Weh.. sulit ya.. Sementara kita usahakan dengar dan tirukan saja dulu, sambil kita terus mencari format yang pas untuk kondisi pembelajar.
PROGRES MAHASISWA
Alhamdulillah, ternyata perkuliahan yang lebih banyak mengedepankan percakapan, mulai menampakkan hasilnya. Mahasiswa lebih aktif, memahami dan mulai menyukai bahasa Arab. Ujian yang beralih menjadi ujian lisan, terasa lebih riil, daripada ujian tulis.
Kelas native memberikan nuansa tersendiri karena pengalaman baru. Mahasiswa juga termotivasi untuk berani ngomong Arab.
Tugas video percakapan Arab juga mendapat respon positif dari mahasiswa. Video yang dikumpulkan pada TA 2016/2017 hingga pelaksanaan UTS Gasal TA 2017/2018 ini menunjukkan progres mahasiswa yang luar biasa. Mulai percakapan ringan 2 perawat, film, lagu untuk menghafal kosakata Arab, hingga perkenalan ringan. Sebuah karya dan prestasi yang dahsyat. Potensi luar biasa yang patut dikembangkan.
Ke depan, kita akan mengusahakan terselenggaranya magang di Rumah Sakit Arab sebagai tindak lanjut perkuliahan Bahasa Arab.
Perlahan namun pasti, kita akan terus bergerak. Mohon dukungan dan partisipasi aktif semua pihak, seluruh civitas akademika Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta. Semoga Allah melapangkan jalanNya dan meridlai setiap upaya kita. Nashrun minallah wa fathun qarib. []
Wallahu a'lam
#banggamenjadiunisa
Yogyakarta, 4 Rabiul Awwal 1439 H
Sri Lestari Linawati akrab disapa Lina. Dosen Bahasa Arab Unisa Yogyakarta ini menekuni bahasa Arab di Sastra Arab Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Di sini pula Lina kenal dengan sosok Prof. Baroroh Baried. Psikologi pembelajaran bahasa Arab ditekuninya di Psikologi Pendidikan Islam Magister Studi Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Sharing pemikiran ? Email Lina di sllinawati@unisayogya.ac.id atau di no hp/WA 0856.292.8998
Rabu, 03 Mei 2017
KOMUNIKASI IBU DAN ANAK
Oleh
: Sri Lestari Linawati
Anak memiliki 4 hak, yaitu hak untuk hidup, hak untuk tumbuh, hak
untuk berkembang dan hak untuk berbicara (UU Perlindungan Anak). Karenanya,
orangtua memelihara perkembangan janin, merawatnya sejak bayi, dan mendidiknya
sejak dini, sebagai implementasi hak hidup, tumbuh dan berkembang. Bagaimana
dengan hak berbicara?
Dulu, anak harus mematuhi semua perintah orangtua. Apapun yang
orang tua katakan, inginkan, harapkan, harus dipenuhi oleh anak, sama persis
sebagaimana yang orangtua katakan, inginkan, harapkan. Jangan pernah
sekali-kali anak berani membantah. Yang bisa dilakukan seorang anak hanyalah
menuruti saja apapun itu. Itu dulu. Kini, tak serta merta demikian. Jaman telah
berubah. Pendidikan mengajarkan bahwa penting mendengarkan suara anak, aspirasi
anak. Mengapa? Karena anak memiliki hak berbicara.
“Hari ini ingin makan apa, Sayangku?” tanya sang ibu pada anak
balitanya, sebelum berangkat belanja ke pasar. Anak menjawab, “Aku ingin sop bayam
dan tempe goreng”. Sepulang belanja, sang ibu mengeluarkan belanjaannya,
dibantu sang buah hati. Perlahan sang ibu menyebutkan satu persatu belanjaannya.
“Bayam…, wortel…, tauge…, bumbu dapur…, tempe…, tahu...”. Anak pun dengan penuh
semangat membantu sang ibu dan menirukan pelan yang disebutkan ibu. “Bayam…,
wortel…, tauge…, bumbu dapur…, tempe…, tahu...”. Ibu dan anak pun sudah sibuk
di dapur, mulai memetik daun bayam, memotong wortel, mencuci tauge, mengiris
bawang merah dan bawang putih, memotong tempe, menggorengnya, hingga
menyajikannya di atas meja. Makan bersama dengan seluruh anggota keluarga,
menjadi bagian hidup terindah yang tak boleh dilewati.
Begitulah potret sederhana bagaimana membangun komunikasi ibu dan anak yang masih berusia balita. Kehangatan dalam keluarga tak harus menunggu saat liburan sekolah, karena komunikasi bisa dilakukan setiap hari. Kehangatan suasana keluarga tidak harus pergi nonton bioskop, karena aktivitas bersama di rumah pun cukup menjadi tontonan bagi anak. Pun tak harus berlibur ke luar negeri, karena sejenak saat bersama ibu atau ayah cukup memberi arti berlibur bagi anak dari kegiatan bermain bersama teman-temannya. Ada teramat banyak hal yang dapat dilakukan di dalam rumah tangga dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini membuat anak merasa dihargai karena pendapatnya didengarkan, diapresiasi dan diaplikasikan. Terjadilah proses saling menghormati dan saling menghargai di dalam keluarga. Hal inilah yang menumbuhkan rasa percaya diri anak.
Makna komunikasi yang kedua bahwa saya sebagai ibu perlu belajar
mendengarkan pendapat anak. Belajar mendengar pendapat anak dengan mendengarkan
pendapatnya. Saya juga belajar menyatakan harapan saya pada anak. Duduk sama
rendah, berdiri sama tinggi. Sungguh untuk hal ini saya harus belajar dan
belajar.
“Anakku,
ibu ayah meginginkanmu sekolah di pondok pesantren. Pertama, pelajaran sekolah
sebagaimana SMP pada umumnya, diberikan di sini. Kedua, shalat dan baca Qur’an
dijaga selalu. misalnya. Penting untuk kita, agar kita dekat dengan Allah, agar
kita mengetahui tujuan akhir hidup kita. Bagaimana menurutmu?”. Ini komunikasi
saat anak mulai masuk tingkat akhir Sekolah Dasar.
Selama anak di pondok pesantren, ibu masih berperan menjalin komunikasi dengan anak. Dengan mematuhi aturan yang telah ditetapkan pondok tentang bagaimana aturan komunikasi boleh dijalin, orang tua harus siap sedia. Juga bagaimana kenyamanan anak dalam menjalin hubungan komunikasi dengan kita. Ada anak yang enggan telpon karena maunya bicara langsung dengan orangtua saat liburan di rumah. Ada anak yang inginnya ditelpon saat anak mendapat jatah giliran menerima telpon, meski sekedar tanya,”Ibu ngapain?”. Ada juga anak yang telponnya sesuka hatinya saat dia menginginkan telpon. Adapun hari libur pondok dan waktu telpon ada yang sabtu, ahad, kamis atau jumat. Sebagai ibu, mustilah siap selalu bila menerima sms anak, “Assalamu’alaikum.. Bagaimana kabar Ibuk? Alhamdulillah aku sehat. Kalau nanti Ibuk ada waktu, telpon ya.. Big hug, Mom..” Wuih.., tentu berbunga hati ini baca sms begini. Secapek apapun, seakan segera terobati. Adapun bila sms berbunyi, “Buk, telpon balik”, ini artinya ibu musti segera menelpon sang buah hati.
Demikianlah
sekilas gambaran upaya-upaya membangun komunikasi antara ibu dan anak. Anak
yang menyejukkan mata yang digambarkan dalam Al-Qur’an musti diuraikan maknanya
dalam setiap tarikan nafas kita. Bukan semata bacaan doa atau tulisan harapan
yang cukup ditempelkan sebagai status. Wallahu a’lam. Semoga para ibu mampu
bersabar mewujudkan anak yang berbakti sebagaimana firman Allah Surat Al-Ahqaf
ayat 15 “…sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh
tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat
Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku
dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku
dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada
Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri".
Amin..
Sabtu, 29 April 2017
QUANTUM PENGELOLAAN KONFLIK, RESOLUSI KONFLIK DAN PERDAMAIAN
*** Lina ***
“Inna lillahi
wainna ilaihi rajiun..” Kalimat itulah yang selalu kita ucapkan saat mendengar
berita kematian. Kemudian kita melayat dan menanyakan sebab kematiannya. Pada akhirnya
memang kita memang meyakini makna kalimat tersebut, “Sesungguhnya hanya bagi
Allah (kita hidup) dan sungguh hanya kepada Allah kita akan kembali”. Tradisi
pemakaman di daerah Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta ini adalah
diputarkan kaset lantunan ayat-ayat Al-Qur’an dan artinya. Saat takziyah
menjadi saat-saat perenungan hakikat asal dan tujuan akhir hidup kita. Dari
sebab-sebab kematian, kita menjadi belajar bahwa Tuhan Maha Berkehendak.
Kapanpun, di manapun, dengan jalan apapun, kematian itu bisa saja menjemput.
Tak selalu menunggu tua, muda pun bisa mati. Tak menunggu kaya, miskin pun bisa
mati. Tak menunggu sakit, sehat pun bisa mati. Tak menunggu lapang, sempit pun
bisa mati. Artinya, kapanpun dan dimanapun mustilah kita siap dengan kematian.
Kapanpun Allah menghendaki kita kembali, mustilah siap senantiasa adanya.
Konflik itu
datang, ketika suatu Rabu sore, setahun lalu, Sang Dokter Bedah memberi tahu
saya untuk operasi pada Jumat pagi. Gedubrak.. Tentulah satu hal yang tak
pernah saya bayangkan. Hla bagaimana mungkin.. Saya merasa sehat dan baik-baik
saja. Saya masih bisa beraktifitas dan bekerja. Ke dokter bedah ini pun, karena
keputusan cepat yang saya ambil sebelumnya di faskes 1. Dokter di sana
mengatakan saya perlu dirujuk ke dokter bedah. Duh.. bagaimana awalnya dan
bagaimana akhirnya?
Begini.. inilah
kisah saat Allah mengirim saya ke sekolah bernama “Pelatihan Kesakitan”. Saya
menyaksikan bagaimana Allah mendidik kita, bagaimana Allah melimpahkan kasih
sayangnya pada kita, bagaimana Allah sangat melindungi kita. Bagaimana scenario
Allah sangat teliti dalam mengatur hidup dan kehidupan kita. Setelah itu
akhirnya saya hanya mampu berserah diri pada Allah. Saya manut saja pada
kehendak Allah. Kepasrahan itu bukan taka da daya juang dari kita, sebaliknya,
yang namanya kepasrahan itu butuh perjuangan kita yang seoptimal mungkin, yang
terbaik yang bisa kita lakukan. Masalahnya, dalam masyarakat kita, dalam budaya
masyarakat Indonesia, persoalan social, ekonomi, budaya, politik, keamanan dan
hankam mendefinisikan kepasrahan dalam makna sempit. Gagal sedikit, nyerah.
Gagal sedikit, lari dari kenyataan. Gagal sedikit, mencari kambing hitam. Duh,
hla kambing putih saja ada banyak, mengapa harus mencari kambing hitam?!
Ini persoalan paradigm berfikir yang harus dibenahi. Paradigma berfikir masyarakat kita harus dibangun dalam paradigm tauhid. “Inna lillahi wainna ilaihi rajiun” merupakan sebuah paradigm tauhid. Meyakini bahwa Allah-lah yang menciptakan, Allah pula pelabuhan terakhir kita. Bila sudah sampai di titik ini, Allah awal dan akhir hidup kita, insyaallah jelaslah langkah-langkah yang kita lakukan. Taka da keraguan sedikitpun dalam melangkah. Peran apapun yang kita mainkan di dunia ini, itu kita yakini sebagai peran kekhalifahan kita di muka bumi. Di saat sujud-sujud kita, akhirnya kita pun hanya akan meyakini bahwa kita adalah hambaNya. Tak perlu ada riak kesombongan dalam diri karena kita semata ‘abdun dan khalifah fil ardh. Terus bergerak di muka bumi untuk menjalankan peran kekhalifahan dan senantiasa beribadah kepadaNya. Tri dharma perguruan tinggi (pengajaran, penelitian, pengabdian masyarakat) dan catur dharma bagi perguruan tinggi Muhammadiyah/ Aisyiyah( tri dharma PT + bermuhammadiyah) adalah langkah yang musti ditempuh seorang dosen untuk mewujudkankan peran ‘abdun dan khalifah fil ardh. Kegiatan-kegiatannya diukur dengan jalan-jalan yang telah ditentukan. Nah, ruh tauhid itu mustilah mewujud dalam kiprah catur dharma tersebut. Mengapa? Karena bermuhammadiyah hakikatnya adalah berislam, dan berislam itu bertauhid, mengesakan Tuhan Yang Satu: Allah. Ingatlah ketika Luqman berwasiat kepada anaknya, “La tusyriq billah”, jangan sekutukan Allah..
Bagaimana dengan
anak didik kita? Pendidikan kita, awal dan akhirnya mustilah menggunakan paradigm
tauhid, apapun nama lembaganya. Selama pegangannya tauhid, insyaallah Allah SWT
berkenan melindungi, melimpahkan kasih sayangnya, mencukupi semua kebutuhan
kita. Kita sehat karena Allah. Kita bekerja karena Allah. Kita mengajukan
proposal karena Allah. Kita menulis karena Allah. Kita dinobatkan berprestasi
karena Allah. Kita naik jabatan karena Allah. Kita tetap tersenyum dan ringan
membantu sesame karena Allah. Pekerjaan datang dan datang juga karena Allah. Wallahu
a’lam.
(Maret 2017)
(Maret 2017)
Langganan:
Postingan (Atom)



