Kamis, 18 April 2019

Kepemimpinan Perempuan

Hasil gambar untuk kepemimpinan perempuan muslim
perempuan memimpin. fatwa tarjih


Oleh: Sri Lestari Linawati


Pelajaran pertama yang kami kenal adalah "setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan ditanya tentang kepemimpinannya".

Berbagai kegiatan yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas perempuan, pada akhirnya, musti diikuti. Sebagai apapun, berikan karya dan prestasi terbaik. Meneliti, menjadi duta organisasi, hingga membangun rumah tangga. Perempuan memang musti mandiri dan berdaya. Anak-anak dan suaminya senantiasa membutuhkan peran serta perempuan dalam kehidupannya. Kok? Karena pendidikan yang pertama dan utama adalah rumah, dan itu artinya perempuan, sebagai istri dan ibu.

Dalam Al-Qur'an banyak dikisahkan tentang perempuan tangguh dan shalih. Maryam ibunda Nabi Isa as, Ibunda Nabi Musa, istri Fir'aun, Ibunda Ismail, dan masih banyak lagi. Sedikit contoh ini mengajarkan pada kita bagaimana makna iman dan ikhlas itu. Sebuah sikap tangguh yang hanya berserah diri pada Allah Sang Pencipta. Jauh dari riuh tepuk tangan manusia. Beliau memohon, meminta dan berserah diri padaNya. Sebuah sikap teladan.

Dalam organisasi bagaimana? Kita kenal adanya "Ratu Semut" (QS An-Naml: 18). Dalam buku "Nalar Ayat-Ayat Semesta" (NAAS, Purwanto) diuraikan dengan gamblang bagaimana sang ratu semut memerintah, bukan sekadar "seekor semut". Tertulis di ayat tersebut "Qalat namlatun", berkatalah sang ratu semut. Bukan tertulis "qala namlun".

Dalam surat Al-Qamar ayat 22 "Dan sungguh, Kami mudahkan Al-Qur'an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?"

Ayat tersebut mengajarkan pada kita bahwa ada banyak contoh liku-liku kehidupan yang kesemuanya telah Allah terangkan dalam Al-Qur'an. Persoalannya, apakah kita mau mengkajinya? Apakah kita mau mengambil pelajaran darinya?

Ketangguhan dokter Song dalam drama "Hospital Ship" adalah salah satu contoh, bagaimana sebuah karakter itu dibangun.

Contoh lainnya bisa kita lihat dari film "The Devil Wears Prada". Sudah nonton kan? Kalau belum, pastikan suatu saat Anda nonton ya.. Bila sudah nonton, kita akan diskusi lebih lanjut, tentu asyik.

Saya tidak akan menceritakan detilnya, khawatir mengurangi keseruan Anda dalam menikmatinya nanti. Analisis film itu juga sudah ditulis oleh seorang mahasiswa Pascasarjana Universitas Mercu Buana Yogyakarta Magister Profesi Psikologi Industri dan Organisasi, Delly Kusdalena, 2013. Baca sendiri ya, pasti lebih lengkap dan akurat.

Di hari pasca pilpres ini, mulai banyak kelompok perempuan menyuarakan (kembali) hal kepemimpinan perempuan. 'Aisyiyah yang berumur satu abad pun, kiranya masih perlu senantiasa mengkajinya. Bukan tidak percaya, namun lebih pada upaya mengkomunikasikan dan menerjemahkan kembali kepemimpinan perempuan dalam konteks kehidupan masyarakat saat ini.

Konsep Indonesia Berkemajuan dan Perempuan Berkemajuan musti tetap dalam koridor rambu-rambu Al-Qur'an. Bukan tidak mungkin ada terjemah baru untuk konteks masa kini. Tidak masalah. Yang penting ada proses komunikasi untuk bersama saling mengkaji. Ora golek penake dhewe, golek penere dhewe. Pintu-pintu ke arah komunisasi yang harmonis mustilah diusahakan oleh semua pihak.

Setelah itu, dibuka juga pintu-pintu kajian secara lebih terbuka tentang partisipasi perempuan dalam bidang-bidang kehidupan: rumah tangga, bertetangga, bermasyarakat, di bidang pendidikan, sosial, ekonomi, budaya, pertahanan dan keamanan dan juga di bidang politik. Siapa pun presidennya nanti musti kita dukung bersama. Apakah prosesnya telah berjalan sebagaimana mestinya yang jujur, adil, bebas maney politic? Aha... ternyata bicara perempuan tidak cukup soal sumur dapur kasur. Poligami pun hanya salah satu hal yang bicara tentang perempuan. Bahwa perempuan itu cantik, itu pasti, karena diciptakan Allah demikian. Nah persoalannya, bagaimana agar kecantikan perempuan itu mendekatkan dirinya dan keluarganya kepada Allah swt saja, taqarrub ilallah  tanpo tedheng aling-aling?

Sudah saatnya carut-marut dinamika perempuan, terutama di tingkat grass root, kian diberdayakan, ditingkatkan kualitasnya bagi kehidupan masyarakat ummat dan bangsa. Bukannya dibodohi atas nama lemahnya partisipasi perempuan.

Membangun rasa dan sikap saling mempercayai dan saling menghormati terhadap sesama perempuan, di semua sektor, harus mulai dibangun. Dibutuhkan ilmu dan latihan yang terus-menerus. Komunikasi dan metode penyampaian pendapat, menghargai dan menempatkan perbedaan adalah resep yang juga musti dikuasai. Penting bagi para ibu untuk memberikan 4 hak anak: hidup, tumbuh, berkembang dan berpendapat. Lembaga pendidikan pun musti memberikan porsi yang cukup bagi terwujudnya komunikasi yang harmonis antara peserta didik dengan lingkungan sekitarnya.

Negara juga berkewajiban memfasilitasi setiap warga negaranya untuk mengemukakan pendapat. Tentu karena kita percaya bahwa rakyat juga memiliki tanggung jawab terhadap nasib masa depan bangsanya. Bukan sekadar soal diskusi jatah kursi dewan negara.

Lalu apa indikator keberhasilan kepemimpinan perempuan?
1. Mandiri,
2. Berilmu pengetahuan cukup,
3. Iman dan agamanya tangguh, seimbang hablum minallah wa hablum minannas.
4. Keluarganya harmonis. Antara sesama anggota keluarga saling menghormati dan menghargai.
5. Pegangan utamanya Allah dan Kitab Allah. Semua persoalan kehidupan, dikembalikan kepada Allah, bukan semata ilmu dan nafsunya.
6. Lainnya masih banyak. Perlu diskusi lanjut agar bisa kita kembangkan bersama.

Itu sekadar obrolan ringan. Anda punya pendapat lain? Mari kita diskusikan bersama. Salam Perempuan Sehat. []

Yogyakarta, 18 April 2019