Selasa, 28 Maret 2017

Di Masa Tua, Dia Terus Berkarya

gambar: ilustrasi; sumber: ondosupriyanto.blogspot.co.id


oleh: Sri Lestari Linawati


Pagi ini aku bermaksud berangkat pagi-pagi agar bisa ikut kegiatan senam aerobic khusus ibu-ibu yang diselenggarakan oleh kampus. Rencana tinggal rencana. Ternyata pagi ini saya harus mengantar motor ke bengkel karena ahad bengkel libur. Ini perlu saya lakukan agar senin yang dengan jadwal full sejak pagi hingga malam, dari kampus satu ke kampus terpadu, dapat berjalan dengan lancar. Akhirnya saya putuskan untuk naik sepeda federal menuju kampus. 
Anak kami yang sedang olahraga di sekolahnya melambaikan tangannya. Senang melihatnya ceria penuh semangat. Menyusuri jalan-jalan kampung dengan aliran sungai nan gemericik, bunga-bunga berwarna-warni meliuk diterpa angina sepoi-sepoi seolah melambaikan ucapan “selamat berkarya…!”, melihat Pak Tani menyiangi rumput di hamparan sawahnya, menjadi pemandangan indah untuk memulai aktivitas hari ini. Bila telah sampai di titik ini, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Kebetulan di jalan itu ada seorang ibu yang tengah menerangkan jalan kepada seorang bapak tua yang tengah memuat tumpukan besek. Spontan saya tanya, “Hendak kemanakah, Bu?” Spontan pula ibu tersebut menjawab, “(beliau bapak tua itu) Mau ke pasar Tlogorejo”. Segera saya ajak serta sang bapak tua, “Monggo sareng kulo, Pak”. Bapak tua itu pun segera mengikuti di belakang”. Alhamdulillah, di antara waktuku masih Allah berikan kesempatan untuk menunjukkan jalan kepada sang bapak tua penjual besek. Hampir sampai pasar, kutanya asalnya, “Saking Mijen, Godean.. Ibu badhe tindak sekolah?” “Nggih.”, jawabku. Di pertigaan kutunjukkan jalan ke kanan menuju pasar Tlogorejo, dan beliau dengan wajah sumringah, turun dari sepedanya dan berhenti sejenak kemudian berkata padaku, “Maturnuwun, Bu..” 
Subhanallah.. Alhamdulillah.. Kukayuh lagi sepedaku ke kampus yang tak jauh dari rumahku. Mengingat sang bapak tua dari Mijen itu mengingatkanku pada saudara-saudaraku di kampung sana. Sebuah besek itu hasil karya tangan-tangan trampil yang bergerak pagi, siang, sore dan malam.. Sejak menebang pohon bambu, memotongnya, menyisik, menjemur dan mengeringkannya, menganyamnya satu-persatu hingga diperoleh setumpuk besek yang siap diantar ke pasar oleh sang suami. Allahu akbar..
Tak terasa tlah sampai aku di kampus.. Kulihat para mahasiswa calon-calon tenaga kesehatan itu menyimpan senyum mereka dan menghafalkan langkah-langkah perawatan pasien: calon perawat, calon fisioterapis, calon bidan dan calon bidan pendidik. Air mata mengalir membasahi pipi. Bapak tua itu mengajarkan padaku untuk terus berkarya dan berkarya, betapapun usia telah beranjak kian tua.. Kepada para mahasiswa itu hendaklah terus kubagikan semangat tauhid, meyakini keagungan semesta. Teruslah merenda asa, karena sesungguhnya Allah itu Maha Kaya, Maha Kuasa.. Allahu akbar.. Allahu akbar.. Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Sabtu, 11 Maret 2017

Indonesia Pusat Peradaban Islam Saat Ini



gambar: wikimedia.org


Oleh: Sri Lestari Linawati

“Pada abad ke-10, pusat peradaban Islam adalah Baghdad. Sekarang, Indonesia Pusat Peradaban Islam”. Ini adalah pernyataan paling menarik yang disampaikan Dr. Aoki Takenobu dan Dr. Akutsu Masayuki dari Chiba University Jepang, Kamis (9/3/17), di Hall 4 Baroroh Baried, Gedung A Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta.

Studium Generale “Considering Indonesian Islamic Society from Nursing Care Field in Contempary World” ini dihadiri sekitar 400 mahasiswa dari 13 prodi yang ada di UNISA Yogyakarta. Di era Meiji, Jepang selama ratusan tahun menerima modernisasi barat dengan tetap mempertahankan tradisi Jepang seperti nilai-nilai agama dan keluarga.

Namun saat ini Jepang mengalami krisis. Anak-anak muda mulai individualis, mulai kehilangan rasa hormat pada orang tua, mulai kehilangan orientasi hidup, angka bunuh diri mencapai 30.000/th, orangtua yang renta tak lagi dipedulikan. Memang benar Jepang maju dalam teknologi, kedisiplinan dan semangat kerja, itu kelebihan kita. Namun untuk nilai-nilai budaya yang mendisiplinkan nilai-nilai moral, Jepang perlu belajar kepada masyarakat muslim Indonesia.

Menurut kami, pusat peradaban Islam bukan lagi di Baghdad atau Timur Tengah. Bagi kami, pusat peradaban Islam ada di Indonesia. Indikasinya, misalnya hal memperbaiki lingkungan hidup. Sampah dipilah, didaur ulang. Hal ini diambil dari nilai-nilai agama islam, maka kemudian ada istilah “Shodaqoh sampah” yang diyakini sebagai jalan untuk masuk surga. Artinya, ajaran islam bisa dihidupkan dalam kehiduan sehari-hari.
Mengapa Indonesia merupakan pusat peradaban Islam saat ini? Menurut kami karena 2 faktor, yaitu:

1.
Faktor Sosial
Penduduk Indonesia terdiri dari beraneka agama, suku, budaya dan bahasa. Di antaranya ada suku Minang, Batak, Madura, Jawa, Bugis dan sebagainya. Demikian data statistic yang ada. Agama ada Islam, Hindu, Budha dan itu diintegrasikan dalam satu negara “Indonesia”. Ini mencerminkan adanya persatuan dan kesatuan Indonesia.

2.
Pendidikan
“Angka buta huruf hampir 0 %”, kata Dr. Aoki. Hampir tidak ada orang di Indonesia yang tidak bisa membaca, semuanya bisa membaca. (Untuk hal ini tampaknya saya masih mempertanyakan. Faktanya, masih banyak warga Indonesia yang masih perlu baca tulis).

Dr. Aoki dan Dr. Akatsu telah melakukan riset Islam di Indonesia ini sekitar 5 tahun. Beliau melihat pentingnya integrasi sains dan agama. Beliau memulai pembahasannya dari pemahaman Islam di Jepang dan mengakhirinya dengan menekankan tugas ini kepada muslim Indonesia. “Tugas saudara-saudara sangat penting, yaitu mensosialisasikan Islam, agar masyarakat di luar Indonesia dapat menemukan solusi mengatasi ‘jaman edan’ yang dihadapinya. Harus belajar dari Indonesia.”

“Are you ready for Islam Berkemajuan in Nursing Field?” ditanyakan tiga kali oleh Dr. Aoki, seolah memastikan kesediaan muslim Indonesia. Pemerintah Jepang punya undangan kesempatan bekerja sambil belajar, manfaatkan. Muslim Indonesia memiliki KEKUATAN AGAMA ISLAM YG SANGAT KUAT.

Saya kira ini adalah petunjuk Allah bagi kita, tenaga kesehatan muslim Indonesia. Dari seorang doctor Jepang, kita disadarkan untuk menguatkan kembali nilai-nilai keyakinan Islam di bidang kesehatan dan kehidupan. Islam sangat menganjurkan pentingnya kebersihan bagi perwujudan kesehatan. Persoalan-persoalan kesehatan, pada akhirnya berakar pada persoalan agama dan keyakinan. Bila demikian halnya, penting dan strategis memaknai kembali ikon “Profesional Qur’ani”, professional yang terinsiprasi Al-Qur’an. Wallahu a’lam.



dipublish juga di www.kabarnusa.com


Jumat, 10 Maret 2017

Menulis Memerdekakan Jiwa...







Oleh Sri Lestari Linawati


Setelah seminggu banyak menghabiskan waktu di luar rumah, hari Ahad ini saya ingin menghabiskan waktu di rumah. Usai membaca tulisan teman-teman SPN, pagi tadi saya berkebun. Memetik daun kenikir, daun mlinjo, beberapa buah mlinjo yang telah merah, markisa, talok merah ranum, dan daun singkong, sambil mandi cahaya mentari pagi. Angin berdesir pelan.

Beberapa kupu-kupu beterbangan kian-kemari. Kicauan burung pipit menunjukkan kegembiraannya pada semesta. Capung kehijauan yang terbang perlahan, menggenapi indahnya alunan pagi.

Alhamdulillah… Ternyata banyak juga hasil kebun yang kudapatkan: seember daun kenikir, 15 buah markisa, segenggam buah mlinjo, segenggam daun mlinjo, 3 buah jambu biji dan seikat daun singkong. Lumayan buat persediaan sayur dan buah.. juga bisa cuci mata, melihat sejenak keagungan alam, melepas sejenak rutinitas kerja yang seakan tiada habisnya, dan menata hati yang senantiasa gundah gulana tuk bisa pahami pilkada Jakarta putaran kedua, Seorang saja penista Qur’an, memporak-porandakan wajah Indonesia.

Sambil menanti Sang Suami pulang kerja, kunikmati talok langsung dari pohon. Manis. Subhanallah.. Tentulah Allah Sang Pencipta yang menghendaki hasil kebun ini indah sedemikian rupa. Ini baru di dunia… Bagaimanakah indahnya surga kelak..? Yang digambarkan dalam Al-Qur’an betapa amat sangat indahnya... Semua yang Allah janjikan, pasti tersaji.. Allahu akbar.. Allahu akbar.. Allahu akbar..

Aku masuk rumah dan mulai menelpon. Anak kedua kami yang sekolah di SMA Trensains Sragen, Kiysa, miscall. Wah, ternyata nomor simpatiku tidak bisa tm on. Sudah kuhubungi temanku untuk beli pulsa, eh…belum masuk juga. Lalu kucoba telpon anak kami di nomor hp kedua layanan sekolah untuk santri (ada dua nomor,. Terima kasih, Asatidz, yang masih mengizinkan kami orangtua menyambung ikatan ukhuwah dengan buah hati kami).

Di nomor indosat itu nyambung, namun anakku tidak ada... “Dia baru keluar beli pulsa, Tante,” suara Anisa teman anak kami. Sampai sini, saya belajar sabar. Tidak semua yang kita inginkan, bisa terpenuhi seketika. Dulu waktu kuliah S1 diajarkan tentang komunikasi. Komunikasi akan berjalan ketika ada komunikan dan komunikator. Hla musti sabarnya orang tua nelpon anak di pondok, adalah menunggu momentum bertemunya komunikator dan komunikan, antara kita dan sang anak.

“Dhog… Dhog… Dhog…” begitu suara itu terdengar dari balik jendela. Ternyata pemilik rumah yang kami tempati sedang menebang pohon talok yang tumbuh dengan lebatnya di kanan depan rumah kami. Saya putuskan keluar sekedar untuk berempati. Interaksi dengan tetangga itu perlu dibangun sedemikian rupa agar terbangun rasa saling percaya.

Tak tega melihat peluh Mbah Sugi bercucuran, kubantu memindahkan ranting-ranting yang telah dipangkas oleh mas Agus dan mas Damiri. Ketika kutanya kenapa ditebang, mbah Sugi menjawab, “Kengeng kabel, mbak.” (Bahasa Jawa, artinya mengenai kabel yang menghubungkan rumah tetangga sebelah dengan rumah kami).

Pohon talok kecil kesukaan anak pertama kami itu, ternyata kini tumbuh besar dan amat lebat. Nala, anak pertama kami memang menyukai tanaman. Tampaknya dia cenderung memiliki kecerdasan naturalis. Bahkan dia mampu bertahan dan menyelesaikan pendidikan enam tahun di SMP-SMA MBS Prambanan Yogyakarta karena di sekolah itu ada pohon talok.

Hahaha.. Waktu istirahat atau senggang, dia akan menikmati buah talok. Jadi yach… begitu sederhana indicator kenyamannya di pondok: talok. Bagaimana baju seragamnya yang coreng-moreng kena getah pohon talok, bisa dibayangkan lah.. Karena kami ingin menerima anak kami apa adanya, getah di seragamnya pun musti kami terima sebagai pembayarannya. Yang penting dia bahagia dan bisa mengikuti pembelajaran, sudah. Biarlah dia menjadi pribadi sesuai dengan namanya, “Ainal Alami”, pengetahuan yang holistic. Seberapapun ilmu yang dimiliki, semoga ilmunya integral, menyeluruh, utuh di dalam dirinya.

Memindahkan ranting-ranting talok itu, yang membuat gembrobyos juga, hehe.. mengajarkan padaku bahwa sekecil apapun ilmu yang kita miliki, ketika kita rawat, perjalanan waktu membuatnya tumbuh besar dan kokoh, tak gampang orang merobohkannya, memindahkannya pun perlu berpeluh-peluh. Hargai ilmu yang Anda miliki, syukuri, sekecil apapun.

Setelah memindahkan pula ranting-ranting rambutan di depan rumah sebelah kanan, saya masuk, melanjutkan lagi menghubungi anak kedua kami, “Kiysa”. Waduh, ternyata pulsa simpati belum masuk juga. Nomor im3 tak ada yang mengangkat. Akhirnya saya tinggal belanja bawang dan Lombok di warung tetangga. Bertemulah saya dengan penjual jamu langganan saya sejak saya punya anak pertama. Jamu daun sirih, paitan dan kunir asem menyegarkan tenggorokan.

Anehnya, penjual tak pernah mau menerima uang pembelian saya. Anehnya lagi, yang saya pelajari dari diri Mbak Yani penjual jamu yang berasal dari Klaten ini, dia akan libur jualan dan pulang ke kampungnya bila dia rewang tetangganya yang punya hajat, baik mantenan, sripah, lahiran dsb. Sungguh orang yang terlewat dari pemikiran ekonomi modern, yang harus kerja dan kerja bila ingin kaya.

Dari penjual jamu ini saya belajar tentang hakikat kekayaan. Kaya itu relative, tergantung dari mana kita memandangnya. Bila kaya itu identic dengan harta, maka orang akan kerja dan kerja dan semua dihitung dengan uang. Bila kaya itu adalah harta dan nilai luhur agama, maka yang dilakukan adalah kerja dan menjalankan ibadah. Itulah hidup, hidup itu pilihan. Bila kita telah memutuskan “Islam is my way of live”, maka sudah selayaknyalah kita menjalani pilihan Islam sebagai jalan hidup. Hidup di dunia dan hidup di akhirat.

Menjelang matahari naik, barulah pulsa masuk. Hp low bat.. Pindah hp lainnya (Duh ribet ya..) Alhamdulillah, anak kami baik-baik saja. “Nduk, maaf Ibu belum bisa jenguk. Insyaallah 5 Maret nanti, sekalian ngantar adikmu tes seleksi PSB SMA Trensains”, dengan hati-hati saya sampaikan hal itu padanya. Maklumlah, sepertinya dia mirip ibunya yang sensitive dan suka nangis, hihi.. Mungkinkah itu melekat pada diri perempuan? Wallahu a’lam. Saya coba tegar mendengar suara dari balik telepon, apapun jawabannya. “Ora popo, Bu, kene yo lagi akeh kegiatan” (Bahasa Jawa, artinya, “Nggak apa-apa, Bu, di sini juga baru banyak kegiatan”), jawabnya.

“Alhamdulillah,” ucapku lega. Tampak anak kami puas sudah bisa berbincang dengan saya, ayahnya dan adiknya. Di titik-titik seperti inilah saya merasakan hadirnya Allah dalam kehidupan kami. Di saat banyak orang tua dipusingkan oleh kepentingan anaknya, namun kami bisa melewatinya tanpa halangan berarti. Kerja, bukanlah semata untuk mendapatkan uang untuk membayar SPP anak-anak, namun kerja sebagai ibadah, terkadang musti berhadapan dengan kepentingan anak yang mau ini dan itu.

Mutiara berikutnya yang kami rasakan hari ini adalah saat anak keempat kami, Yannas, merampungkan cuci piring tanpa ‘membantah’ dan segera shalat ashar setelah mendengar adzan. Alhamdulillah, ya Rabb.. Dan saat saya berusaha merampungkan tulisan ini, saya mendapat kiriman foto anak ketiga kami, Dihan, dari Ustadz Muttaqin, gurunya di MTs Muhammadiyah Kudus. Tampak di foto itu Dihan sedang mengikuti lomba 4 bahasa. Subhanallah.. Subhanallah.. Alhamdulillah…

Ada teramat banyak karunia Allah dalam kehidupan kita yang mustinya mampu kita syukuri. Tak ada alasan untuk menagis, mengeluh dan bersedih hati. Allah telah menetapkan kadar segala sesuatu. Semua tugas yang menumpuk itu, kerjakan satu persatu, dengan senantiasa memohon dan berserah diri pada Allah. Pertanyaannya kemudian, apakah hubungannya tulisan ini untuk setoran Quantum Keteladanan dan Pencerahan SPN bulan Februari 2017? Saya mampu menulis itu semua karena motivasi yang ditaburkan tiap hari oleh teman-teman SPN. Sebagai anggota SPN yang baru bergabung sejak Desember 2016, ada banyak hal yang belum saya fahami. Yang terjadi, beberapa kali saya salah atau kurang tepat dalam berinteraksi di dalam grup WA SPN.

Menulis, sudah lama saya impikan. Bahkan saat kuliah S1 Sastra Arab UGM sempat jadi panitia Pelatihan Jurnalistik dalam rangkaian kegiatan RDK, Ramadhan di Kampus. Namun entah bagaimana, rasanya saya dilanda ketakutan luar biasa. Saya takut salah, takut membuat orang tak berkenan, takut entah apa lagi. Apalagi di SPN yang saya kenal Cuma Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag. penguji tesis saya yang memberikan support agar tesis saya diterbitkan. Impian menulis seakan mendapat angina segar, namun bagaimana caranya… Di grup WA SPN, hanya beberapa kali saja saya komentar, selebihnya banyak sebagai pengamat dan penikmat saja (wei, curang ya…). Hm, mungkin saya tipe orang yang tak mudah percaya. Hayo kenapa? Saya pun tak bisa menjelaskannya.

Hari demi hari berlalu. Tulisan demi tulisan di grup SPN telah saya baca. Komentar pun keluar biasa saja dari para anggota. Bukan tanpa gejolak sih, namun yang lebih pas adalah bahwa SPN adalah –sesuai perkenalannya yang saya baca pertama kali- kumpulan para penulis yang ingin terus menulis dan menulis. Apapun yang dibicarakan, ya menulis.

Komentarnya, ya tentang menulis. Kalau pun ada sedikit ‘perdebatan’, ya soal menulis. Tiap anggota selalu memberi support kepada lainnya untuk mampu menulis, untuk berani menulis. Ini saya rasakan betul. Ketika itu pertama kali setor tulisan. Mana laptop ngadat dan lelet.. Sebagai manusia biasa, rasanya hampir putus asa. Sempat terfikir, “Nyerah saja deh.. ikut bulan depan kan boleh…” Alhamdulillah saya sempat membaca tulisan di WAG SPN sambil menunggu laptop on kembali.

Tulisan-tulisannya saat itu, dan sampai kini, memampukan kita, meyakinkan kita bahwa kita mampu menulis, bukannya memaki dan memarahi karena tulisan kita belum jadi. Duh, legaaa sekali bisa setor tulisan pertama, 31 Desember 2016 jam 23.57 WIB. Haha… 2 menit sebelum deadline! Bahkan setelah tulisan terkirim, laptop off kembali, hingga sekitar 25 hari berikutnya. Ampyuuun…

Ketika saya mencoba memberanikan diri untuk menulis, apapun yang saya fikirkan saat itu, dan saya share di WAG SPN, teman-teman langsung merespon, tanpa menunggu instruksi, karena memang tidak ada hirarki. Padahal anggotanya para Profesor, Doktor, namun tak ada seorang pun beliau yang merasa paling sakti dan paling berkuasa. Jadi, unik SPN itu. The real. Nyata. Apa yang diimpikan itulah yang dilakukan. Sebagai sosok pribadi, mungkin istilah yang tepat adalah pribadi yang satu dalam kata dan perbuatan. Inilah yang menarik bagi saya.

Dari segi sudut pandang, tak ada arogansi laki-laki terhadap perempuan. Laki-laki dan perempuan dapat berinteraksi secara wajar dengan tetap berada dalam norma agama. Karenanya, saya melihat anggota SPN itu memiliki kepribadian yang istimewa. Ada mas Husnaini, mas Adit, Pak Hernowo, Dr. Viky, Dr. Choirul Mahfudz, Bu Rita, mbak Hiday, Pak Didi, Pak Emcho, Pak Agung Kuswantoro, Pak Ngainun Naim, Kyai Masruri Abd Muhit, Pak Abdul Rasyid, Bu Abdisita, Pak Adzi, Pak Arfan Muammar, Bu Dewi Istika, mas Febry, mbak Helmi Yani, manten anyar Bu Hidayatun, Ir. Zulfa, Pak Makmun, Bu Amie, dan masih banyak lagi yang belum bisa saya hafal.

SPN memberanikan orang untuk menulis, menulis dengan lantang, dengan jiwa lapang, dengan jiwa besar. Semua dalam koridor berfikir positif dan husnudzan. Tak perlu ada yang disembunyikan, karena semua sifatnya transparan. Apa yang diimpikan, digariskan dalam kebijakan organisasi, ya itulah pula yang dilakukan. Wallahu a’lam. Semoga selamanya SPN dapat menjaga garis perjuangannya ini. Menguatkan jiwa dan semangat menulis. Dengan menulis, akan membuka pintu pengembangan ilmu. Secara riil, zaman telah berubah dan itu menuntut kajian ilmu. Dengan kajian, ilmu akan berkembang dan kian kokoh. Dengan kekuatan ilmu, kita bangun Indonesia Berkemajuan. Amin.

Yogyakarta, 19 Februari 2017


dipublish juga di kabarnusa.com dan rumahbacakomunitas.org